Rabu, 25 Maret 2009

Shahnaz Adik Marissa Haque Merindukan Pemimpin Perempuan



Shahnaz Haque Merindukan Pemimpin Perempuan

Senin, 13 Oktober 2008 19:28 WIB






TEMPO Interaktif, Jakarta :Maraknya pembicaraan keterwakilan perempuan dalam politik termasuk pemerintahan tak urung membuat presenter, bintang film dan penyiar radio Shahnaz Haque merasa tergugah untuk urun rembuk.

Menurut istri penggebuk drum, Gilang Ramadhan itu, bila Indonesia benar-benar ingin menegakkan demokrasi, sudah semestinya kaum perempuan diberikan kesempatan yang lebih. "Sebab demokrasi itu kan tidak melihat jenis kelamin," ujarnya, di Jakarta, Senin (13/10).

Di mata pemilik nama asli Shahnaz Natasya Haque itu, demokrasi di Indonesia masih sebatas di tataran legal formal semata. Sebab, sebut Shahnaz, secara kelembagaan perangkat-perangkat demokrasi di Indonesia telah ada. "Ada partai, parlemen, pemilu, bahkan kontrol dari pers," sebutnya.

Begitu pun dengan aturan main dalam demokrasi, telah banyak diproduksi. Namun, kemauan untuk menerapkan nilai-nilai demokrasi ternyata masi setengah hati. "Meskipun tidak tersurat, tetapi ada hambatan kultural. Seolah wanita dan muda dianggap tidak bisa memimpin," tuturnya. Melihat kenyataan itulah, adik bungsu artis Marissa dan Soraya Haque ini mengaku sedih dan prihatin.

Shahnaz pun menunjukkan satu bukti, yaitu daftar calon legislatif yang diajukan oleh partai politik ke Komisi Pemilihan Umum. Menurut perempuan kelahiran Jakarta 1 September 1972 ini, ternyata kuota untuk perempuan tidak dipenuhi. "Kuota 30 persen untuk perempuan saja tak terpenuhi. Lantas bagaimana mau menyuarakan aspirasi perempuan?," ujarnya.

Kenyataan seperti itu, juga terlihat pada jabatan di pemerintahan. Jumlah pejabat publik perempuan jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan yang ada di negeri ini. Sehingga, katanya, bila bicara keadilan secara proporsional dalam hal jumlah wakil di politik maupun pemerintahan sudah semestinya perempuan memiliki wakil lebih banyak.

Kendati begitu, Shahnaz berharap wakil perempuan di lembaga politik maupun pemerintahan haruslah mereka yang berusia muda. "Soalnya kalau kita lihat struktur penduduk, jumlah penduduk muda terutama yang perempuan, itu banyak sekali. Terlebih potensi dan kemampuan mereka juga sangat besar," akunya.

Tak hanya itu. Bagi jebolan Teknik Sipil Universitas Indonesia ini, kepemimpinan perempuan juga sangat pas bagi Indonesia saat ini. Sebab, Indonesia kini tengah berusaha bangkit dari keterpurukan akibat krisis. Di sisi lain, juga tertatih menghadapi gerogotan perilaku korupsi. Disinilah sebenarnya dibutuhkan kepemimpinan seorang perempuan. "Coba kita lihat pengalaman Finlandia yang banyak dipimpin oleh perempuan. Ternyata, tidak ada kasus korupsi di negeri itu," jelasnya.

Kelebihan lain? Ya tentu saja perempuan lebih telaten dan sabar, kata Shahnaz. Sehingga, berbagai gejolak masyarakat yang mengiringi terbukanya kran demokrasi di era reformasi saat ini, juga bisa dikelola secara bijak dan ketelatenan. "Tapi sekali lagi yang muda-muda lah yang harus tampil. Beri kesempatan mereka," paparnya.

Dengan kata lain, mantan Duta Campak UNICEF itu, sangat merindukan pemimpin perempuan yang muda.

http://www.tempointeraktif.com/hg/profil/2008/10/13/brk,20081013-140012,id.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar