Rabu, 25 Maret 2009

Ikang Fawzi PAN dan Marissa Haque PPP Selamanya Kompak dan Mesra






Coba lihat di Jabar 1 Kota Bandung dan Kota Cimahi, poster, spanduk, dan baliho cantik memikat milik Marissa Haque tersebar di daerah pemilihan Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi), sebagai kader PPP yang menajdi Caleg PPP ia maju dari dapil Jabar I. Hal yang sama juga dilakukan suami Marissa, Ikang Fawzi yang maju dengan ‘baju’ PAN dari daerah pemilihan Banten I (Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang). ‘Kami mengonsep (media kampanye, Red) itu sama-sama lho,’ ungkap Marissa kepada Jawa Pos kemarin (8/3). Bahkan, lanjut dia, tempat produksi media kampanye yang telah dikonsep berdua tersebut juga sama.

Meski beda partai, kata Marissa, dirinya dan suami berusaha selalu bekerja sama untuk pemenangan satu dengan yang lain. Marissa mengaku juga turut mendorong agar Ikang lolos terpilih sebagai anggota DPR. ‘Begitupun Ikang, dia juga banyak bantu saya,’ ujar artis pada era 1980-an itu. Misalnya, ungkap Marissa, didapatnya informasi hasil survei yang dilakukan partai suaminya (PAN) tentang potensi caleg per dapil.

Data tersebut, menurut dia, sangat membantu karena telah memetakan potensi kekuatan caleg di dapil masing-masing. Temasuk peta popularitas caleg di dapil tempat Marissa berada. ‘Di sana, alhamdulillah, saya disebut paling populis di antara caleg-caleg yang ada,’ ujar caleg nomor dua DPR dari PPP tersebut. Marissa bahkan mengaku bahwa dirinya membantu suaminya membuka pintu konstiuen di Banten. ‘Saya bantu tunjukkan simpul-simpul massa di Banten,’ ujar politisi yang sempat menikmati sebentar kursi Senayan melalui PDI Perjuangan pada 2004-2006 itu.

Sebagai mantan cawagub Banten, jaringan massa Marissa Haque tersebar diseluruh daerah tersebut yang sejujurnya memang tidak boleh dikatakan kecil. Meski pada akhirnya untuk sementara gagal terpilih, selisih suara dengan pemenang pilgub Ratu Atut Chosiyah sebenarnya tidak terlalu lebar. ‘Kami tetap bekerja sama memenangkan masing-masing di antara kami karena sebenarnya tujuan kami maju juga sama,’ ujarnya.
Sebelum maju di pilgub Banten, karir politik Marissa dimulai ketika bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2004. Saat itu dia terpilih sebagai anggota dewan. Namun, belum sampai selesai, Marissa di-recall dari Senayan setelah memutuskan maju dalam pilkada Banten. Marissa dinilai melawan partai karena bersama Zulkiflimansyah maju dengan kendaraan PKS dan PSI karena merasa tidak bersedia dipaksa berkolaborasi dengan kejahatan semisal dugaan korupsi atas laporan BPKP atas Provinsi Banten tahun 2005-2006 dan dugaan atas penggunaan ijazah paslu oleh Ratu Atut Chosiyah disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 lalu.

Komitmen kerja sama di antaara caleg pasutri beda partai itu ditegaskan juga oleh Ikang. Dia meyakinkan bahwa keharmonisan keluarganya tidak terkoyak sama sekali hanya karena beda partai. Bahkan, dia mengibaratkan, rumah tangga mereka seperti rumah tangga Gubernur California, Amerika Serikat, Arnold Schwarzenegger yang juga berbeda partai dengan istrinya.
‘Justru saya bangga karena beda partai. Sebab, kalau satu partai, kan akan mengesankan kemaruk karena tidak memberikan kesempatan kepada orang lain,’ katanya.
Rocker 1980-an itu juga berusaha meyakinkan, menjadi caleg dari partai yang berbeda sebenarnya lebih efektif. Tujuan memperjuangkan amanat rakyat akan lebih mudah karena sudah satu visi. Kemungkinannya akan lebih besar kalau berjuang dengan banyak kendaraan.
‘Ibaratnya, kalau kita menembak satu sasaran, bukannya lebih baik ketika senapan yang digunakan itu dua,’ kata pria kelahiran 23 Oktober 1959 tersebut.

Bagaimana suka dukanya pasutri menjadi caleg? Pria bernama asli Ahmad Zulfikar Fawzi itu mengatakan, yang paling terganggu adalah masalah keuangan dapur karena keduanya membutuhkan dana politik yang besar. ‘Dana yang harus dikeluarkan, baik itu untuk akomodasi, konsolidasi, maupun dana kampanye, otomatis juga dua kali lipat,’ kata Ikang, lantas terkekeh. Toh dia merasa tak kecewa. Ikang bahkan mengaku senang dalam berpolitik. Dia mengatakan, dirinya mulai akrab dengan politik sejak pertengahan 1997. Dia menceritakan, ketika itu diminta oleh tokoh reformasi Amien Rais untuk mengumpulkan sejumlah artis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar